Sabtu, 04 Agustus 2012

Menunggu Pelangi Sesudah Badai



 Tadaaa akhirnya saya menulis lagi, akhirnya berkicau lagi di blog yang sudah cukup lama saya tinggalkan. Apa kabar semuanya?? Rindu nggak sama saya (hehehe sedikit narsis). Biasanya saya ingin menulis ketika lagi galau, ketika gak tahu mesti curhat sama sapa. Di saat semua orang mungkin sedang sibuk-sibuknya.

Tapi kali ini bukan tentang saya, ini tentang seseorang atau sesuatu yang pernah saya alami. Begini ceritanya. Suatu hari, seorang teman curhat sama saya, dia bilang perasaannya berdarah-darah karena seorang mantan yang tega meninggalkan dia. Teman saya itu mau nekat melakukan sesuatu asalkan si mantan itu ngerasain sakitnya sama seperti yang dirasakan teman saya.

You know what, bro. Saya pernah ngalami fase itu. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, kepala pusing nggak karuan (dangdut banget ya..:P). But it's true. Rasanya seperti dihantam kesadaran bahwa orang yang kita cintai itu nggak bisa bersama kita lagi atau yang lebih buruk memilih untuk tidak bersama kita.

Waktu saya ada di fase itu, saya nangis ala bintang film India (sendirian tentu saja), bertanya-tanya apa yang salah dengan saya, kenapa saya nggak dipilih, kenapa harus perasaan saya yang dikorbankan, kenapa dan kenapa lainnya yang saya sendiri nggak bisa jawab.

Dan sesudahnya, saya marah. Saya maki2x tuh orang yang udah nyakitin saya sampai saya capek sendiri. Dan benar seperti dugaan saya. Kemarahan itu cuma menyakitkan. Bikin capek, bikin bla.bla..and the bla..

Karena ingat fase itu, saya pun meminta atau yang lebih ekstrim lagi mengancam teman saya itu untuk belajar merelakan. Karena saya nggak mau dia terus menyakiti dirinya dengan sejuta kenangan yang cuma bikin sakit. Somehow, we must let go everything that makes us angry or sad. Relakan bung, sesakit apapun.

Bagaimanapun semua orang tidak sempurna. Saya nggak akan bilang itu hal yang mudah, saya nggak akan bilang kalau saya sudah nglupain semua hal itu. Tapi saya berusaha. Karena itu bung relakan..paksakan untuk rela. Kalau nggak bisa maafin dia yang menyakitimu, setidaknya maafkanlah dirimu. Karena setelah badai, pelangi itu pasti akan ada untuk dinikmati bersama indahnya senja..Good luck..

5 komentar:

Annisa Reswara mengatakan...

saya sedang dalam fase itu..

bukannya fase memaki sih, maksudnya dalam fase ditinggalkan dan merelakan :)

Unknown mengatakan...

sya juga pernah mengalami hal itu dan membuat saya nekad tindik lidah,, tapi itu tak bertahan hanya selama seminggu saja .. Memang rasanya sakit... Yang dibenak kita cuma ;kenapa dia tidak memilih kita;

galau...

Niken Kusumowardhani mengatakan...

Hadapi dan kerjakan soal2 ujiannya... Lulus atau tidak, naik kelas atau tidak... Tergantung bagaimana kita menyelesaikan soal2 di Sekolah Kehidupan.

fauziyah mengatakan...

aku juga sedang berproses utk merelakan, tp lebih sering nangis2nya, hikks, jatuh cinta itu sakit, sakkiittt bgt

Melihat Dengan Hati mengatakan...

Annisa: sabar ya nduk..big hug for you

Mbak dilla: gak apa sesekali galau itu perlu biar lebih berwarna..semangat


Lovely little garden: amin..semoga semua diluluskan dengan baik..:)

Fauziyah: semoga bisa bertemu yang lebih baik..:)